fbpx

Jogja Office
Jl. Bendo No.17, Wedomartani, Ngemplak, Sleman - D.I. Yogyakarta

Bogor Office
Jl. Pasir Mulya 3 No.L.12, RT.02/RW.07, Pasirmulya, Kec. Bogor Bar., Kota Bogor, Jawa Barat

Jam Kerja
Senin - Sabtu: 8AM - 4PM
Minggu & Hari Libur Nasional (Libur)

Lahan Menyempit, Opsi Beli Rumah Makin Sedikit, Harga Menggigit

Urbanisasi merupakan salah satu penyebab bertambahnya jumlah penduduk. Pertambahan jumlah penduduk di perkotaan meningkatkan kebutuhan dasar masyarakat, salah satunya adalah kebutuhan akan perumahan yang baik.

beli rumah 1
Sumber gambar : Okezone

Apakah pertumbuhan penduduk perkotaan dapat mempengaruhi ketersediaan perumahan di Indonesia? 

Pertumbuhan penduduk perkotaan yang pesat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi daya dukung dan daya tampung kota. Selain itu, dengan bertambahnya jumlah penduduk perkotaan, maka dapat pula timbul permasalahan pada kota itu sendiri. Akibat dari ledakan penduduk adalah semakin sulit tersedianya lahan kosong seiring dengan penyediaan sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin meningkat, seperti perumahan, air minum, fasilitas pendidikan dan kesehatan akan semakin bertambah dan perlu diperhatikan.

Pertumbuhan penduduk di perkotaan harus diimbangi dengan daya tampung permukimannya, karena lonjakan jumlah pendatang yang tidak memiliki rumah atau tidak mampu mengakses perumahan yang layak hanya akan menimbulkan kekacauan perkotaan. Karena kurangnya tempat tinggal bagi warga hanya akan memaksa mereka untuk tinggal di permukiman kumuh, yang pada akhirnya akan memperluas atau memperbanyak kawasan kumuh. Itulah sebabnya permukiman kumuh terus bertambah dan berkembang setiap tahunnya.

Solusi permasalahan kebutuhan perumahan tak terselesaikan

Permasalahan yang sudah lama tidak terselesaikan terkait perumahan dan permukiman, juga terkait dengan pertumbuhan penduduk, adalah meningkatnya permintaan akan perumahan, namun tidak dibarengi dengan ketersediaan dan pembangunan perumahan, yang pada akhirnya menimbulkan kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan.

Permasalahan perumahan dan permukiman yang muncul di Indonesia pada dasarnya adalah ketidaksesuaian jumlah rumah yang tersedia dibandingkan dengan kebutuhan dan jumlah penduduk yang menghuninya. Melihat kenyataan yang ada, pemerintah telah berupaya mencari banyak solusi untuk mengatasi masalah perumahan ini. Namun, ada beberapa kemungkinan alasan mengapa solusi yang dicoba tidak bekerja secara optimal. Beberapa alasannya meliputi :

  1. Perumahan yang terbangun terletak jauh dari kota atau sulit diakses.
  2. Kurangnya sosialisasi yang mudah dipahami  dan menarik masyarakat.
  3. Kondisi perumahan kurang layak, seperti infrastruktur tidak memadai.
  4. Harga tidak sesuai kualitas dan proses pembayaran membingungkan.

Beberapa poin di atas menyebabkan masyarakat menjadi tidak tertarik dengan solusi yang dicoba dan pada akhirnya memilih tinggal di tempat yang mungkin tidak sesuai  atau dapat mengarah pada terciptanya kawasan kumuh.

Alasan tersebut juga menjelaskan mengapa solusi yang diberikan pemerintah tidak menyelesaikan permasalahan yang ada. Oleh karena itu, salah satu upaya untuk mendorong pemenuhan kebutuhan perumahan memerlukan penyediaan perumahan yang baik oleh pemerintah maupun swasta. Namun, jenis-jenis perumahan yang ditawarkan perlu dikelompokkan agar perumahan tersebut dapat disosialisasikan dengan cara yang menarik, sehingga juga menarik bagi warga, dengan harga terjangkau dan cocok untuk masyarakat berpendapatan rendah.

6 Red Flag Saat Beli Rumah, Jangan Dilakukan!

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan membeli rumah. Anda tidak bisa membeli rumah dengan mudah, apalagi rumah untuk ditinggali. Ingatlah bahwa ada hal yang sebaiknya Anda hindari saat ingin membeli rumah. Jika hal ini tidak dipatuhi, maka jangan menyesal nantinya Anda akan menderita kerugian di kemudian hari. Red flag apa saja  yang harus dihindari saat  membeli rumah?

1. Tidak memikirkan lokasi

Semua orang pasti setuju bahwa lokasi adalah pertimbangan pertama saat membeli rumah. Pastikan lokasi rumah yang Anda beli sesuai, strategis, dekat dengan fasilitas umum dan tidak terendam banjir. Penting bagi kita untuk merasa aman dan mudah beraktivitas di rumah sendiri. Lokasi rumah yang strategis juga dapat meningkatkan harga rumah jika tujuannya adalah investasi.

2. Developer abal

Tips dalam membeli rumah adalah mencari tahu reputasi investornya. Cari dan bandingkan beberapa developer. Baca detail  website dan media sosial untuk melihat portofolio proyek yang telah mereka selesaikan hingga saat ini. Selain itu, rajinlah memverifikasi informasi di media massa dan internet. Tujuannya untuk mengetahui apakah pengembang pernah menghadapi situasi negatif yang merugikan konsumen. Jika informasi mengenai keandalan investor tidak mencukupi, maka hal tersebut menjadi tanda bahwa pengembang tersebut tidak bertanggung jawab terhadap perumahan yang mereka garap.

3. Status tanah tidak jelas

Apabila membeli rumah melalui pengembang (developer), pada sertifikat rumah biasanya nama pemilik sebelumnya diganti dengan nama developer. Jika Anda tertarik untuk melakukan pembelian, pastikan untuk menanyakan apakah sertifikat dapat beralih ke nama Anda. Jika sertifikat belum balik nama, maka Anda tidak dapat melakukan alih kredit ke bank lain dari bank saat ini. Pasalnya, pihak bank akan memerlukan sertifikat atas nama Anda agar bisa menyetujui pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Anda. Jadi, pikirkan lagi untuk membeli rumah yang status tanahnya tidak jelas.

4. Pelunasan uang muka (DP) sebelum persetujuan KPR

Sebelum pinjaman yang Anda berikan disetujui oleh bank, Anda jangan pernah mau membayar uang muka atau DP (down payment) yang telah ditentukan kepada pihak developer. Pasalnya, tidak ada jaminan bank akan menyetujui KPR rumah meskipun developer telah bekerjasama dengan bank. Jika Anda tetap nekat untuk membayar DP kepada developer dan KPR ditolak oleh bank, maka akan berisiko uang DP tersebut sulit kembali atau mendapatkan potongan sekian persen.

5. Transaksi rumah di bawah tangan

Jangan pernah melakukan transaksi di bawah tangan! Transaksi jual beli rumah di bawah tangan atau atas dasar kepercayaan yang menggunakan kwitansi sebagai tanda bukti sangatlah berisiko. Jika rumah yang ingin dibeli masih dalam status dijaminkan atau diagunkan ke bank, maka lakukan pengalihan kredit dan dibuatkan AJB di hadapan notaris.

6. Jangan memaksakan diri untuk membeli rumah di luar kemampuan Anda

Pastikan Anda sudah memperhitungkan matang-matang pembayaran atau cicilan sebelum memutuskan membeli rumah. Jangan sampai pembayaran Anda berhenti di tengah jalan karena Anda tidak sanggup lagi membayar. Oleh karena itu, Anda wajib menghitung pengeluaran biaya hidup per bulan ditambah jumlah cicilan rumah. Perencana keuangan sepakat bahwa pembayaran rumah yang aman adalah 30% dari gaji Anda. Jika itu belum cukup, menabunglah hingga Anda punya cukup uang untuk membeli rumah idaman. Selain itu, Anda juga bisa mencari uang tambahan dengan bekerja freelance ataupun juga berinvestasi pada instrumen seperti reksadana yang basisnya pasar saham atau campuran dan sebagian dimasukkan ke emas.

Baca juga : Tips Beli Rumah Kalangan Millenial

Konsultasi Arsitektur Rumah di Mulia Arsitek

Konsultasikan kebutuhan dan keinginan Anda tentang desain bangunan dengan tim kami di Mulia Arsitek untuk mendapatkan desain interior dan eksterior terbaik. Hubungi Admin di WA kami, wa.me/628112648986

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya:

Open chat
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh, Admin Mulia Arsitek!
Saya Ingin konsultasi terkait Desain / Renovasi / Bangun baru Terima kasih